Breaking News

JS Vs THL, Diskusi JIM ke-4 : PDI-P-Golkar Lawan Atau Kawan ?

[caption id="attachment_6493" align="alignleft" width="300"]Js thl JS Vs THL[/caption]

PEMILIHAN kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) Tahun 2018 yang memasuki putaran ke-3 dapat dipastikan akan berlangsung seru dan sengit. Pasalnya dendam lama sebagai musuh bebuyutan kekuatan partai politik sejauh ini masih dalam dominasi persaingan ketat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Golongan Karta (Golkar).

Diskusi Jurnalis Intelektual Mitra (JIM) sesion 4 mengambil tema: "PDI-P dan Golkar Lawan atau Kawan Pilkada 2018?"

Pilkada 2008 dimenangkan Golkar dengan calonnya Telly Tjanggulung – Jeremia Damongilala meraih suara 27.164  atau 42,4 persen dan kekalahan calon yang diusung PDI-P Berty Tangel- Nico Usoh 14.703  atau 22,9 persen dan harus puas diposisi runner up. Sementara pada Pilkada 2013 kemenangan diraih PDI-P dengan calonnya pasangan James Sumendap SH – Ronald Kandoli meraih suara 27.591 atau 39,21 persen mengalahkan pasangan T2-Mor meraih suara 20.125 atau 28,60 persen.

Dari pengalaman di dua Pilkada tersebut keduanya sama-sama telah merasakan pil pahit kemenangan dan kekalahan 2008 dan 2013 atau posisi imbang skor 1:1. Akankah perebutan kekuasaan berlanjut di 2018? Atau menjadi koalisi untuk mengamankan posisi partai keduanya?

[caption id="attachment_6497" align="alignleft" width="300"] Personel JIM saat Diskusi di Pantai Lakban.(foto:dok)[/caption]

Berdasarkan pengalaman diatas dapat dipastikan Pilkada edisi ketiga ini akan berlangsung sengit banyak trik dan intrik dimainkan antara PDI-P dibawah pimpinan James Sumendap SH dan Golkar besutan Tonny Lasut AmTm. Mengingat peta kekuatan partai sama-sama memiliki militansi yang kuat di arus bawah.

“Figur yang mungkin dijagokan PDI-P JS, RK dan Maron dan Golkar THL, E2L dan T2, tinggal bagaimana strategi keduanya, karena untuk meraih kemenangan sama-sama telah merasakan manfaat strategi yang baik,” kata Valdy Suak SH.

Tonny Lasut belum lama ini menyatakan terbuka untuk membangun komunikasi politik dengan tokoh Minahasa Tenggara.

“Saya terbuka membangun komunikasi politik yang baik dengan semua tokoh politik. Termasuk Dr Maxi Rondonuwu DHSM (Maron) dan Ronald Kandoli (RK) kalau mau,” ungkapnya.

Peta kekuatan jika Lasut berpasangan dengan Ronald Kandoli tugas beratnya harus harus intens memperkuat Dapil Tombatu Raya yang dalam Pilcaleg Golkar mendapat 5000-an suara. Jika Lasut Berpasangan dengan Dr Maxi Rondonuwu atau Jeremia Damongilala maka tugasnya adalah memperkuat Ratahan Raya dan Pusomaen yang dalam Pilcaleg 2014 mendulang 3000-an suara.

Sementara James Sumendap SH dalam pertarungan 2018 jika berpasangan dengan Ronald Kandoli maka tugas beratnya berdasarkan data Pilkada 2013 adalah Pusomaen, Ratahan Timur, Touluaan, Touluaan Selatan dan Pasan sementara Belang dan Ratatotok harus diperkuat lagi mengingat jumlah pemilih juga banyak dan cenderung labil yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Jika JS berpasangan dengan THL maka tugas mereka berdasarkan Pilkada 2013 hanya kecamatan pasan karena keduanya sama-sama mengalami kekalahan disana, dan untuk meraih kemenangan cenderung mudah karena kekuatan PDI-P Golkar merata dan kuat di Mitra.

Namun yang menarik saat ini adalah pengaruh pemerintahan JS sangat baik dan kuat mendongkrat popularitas dan elektabilitasnya. Berbeda dengan era pemerintahan T2 dimana banyak program yang dianggap gagal oleh masyarakat melahirkan kekecewaan. Sehingga memang jelas ada kepercayaan diri dari PDI-P bahwa JS bisa berpasangan dengan siapa saja termasuk diinternal PDI-P. Namun politik harus diwaspadai apalagi pada masa kampanye bakal terjadi cuti oleh incumbent barangkali peta politiknya berubah.

“Dari sisi program, merangkul tokoh politik, masyarakat dan tokoh agama, penguatan jajaran pemerintahan Pemkab Mitra yang sangat efisien, karena jika jajarannya solid dan pemerintahan bagus sudah pasti Pilkada akan menguntung JS,” tegasnya.

Sementara dari pihak Golkar untuk merebut kekuasaan harus bekerja super keras mengingat harus menutupi preseden buruk masa lalu dibawa pemerintahan T2 yang dianggap gagal meraih WTP dan ambradulnya system pemerintahan salah satunya pembangunan pasar yang tidak tepat sasaran. Selanjutnya memperbaiki solidaritas partai yang kurang kuat sampai kearus bawah dan membangun kekuatan tim sukses dengan baik.

Namun kedekatan JS-THL bisa saja membawa peluang baru PDI-P dan Golkar untuk koalisi menjadi kawan seperjuangan di Pilkada Mitra 2018.(rl)

 

Tidak ada komentar