Breaking News

JS-RK Telah Bekerja, Ivanry Matu Tolak Gaya Kapitalisme & Beberkan Konsep Ekonomi Kerakyatan Ala Gerindra

[caption id="attachment_6614" align="alignleft" width="300"] Ivanry Matu
Ketua DPC Partai Gerindra Mitra.(foto:ist)[/caption]

CahayaManado, RATAHAN – Ketua DPC Partai Gerindra Minahasa Tenggara (Mitra) Ivanry Matu menegaskan kepemimpinan Bupati James Sumendap SH (JS) dan Wakil Bupati Ronald kandoli (RK) telah bekerja bagi Mitra.


“Kita harus memberikan apresiasi kepada pak bupati dan wakil bupati sekarang karena ada sebuah istilah bagaimana melihat pemimpin itu kerja dilihat dari jalannya di lorong-lorong, kalau jalan itu dibuat berarti pemimpin ada  kerja, kalau di lorong masih banyak yang rusak berarti pemimpin tidak kerja,” ungkap Matu yang berdiskusi dengan awak media Jurnalis Intelektual Mitra (JIM), baru-baru ini.


Menurutnya jika dilihat sekarang sudah nyata bupati dan wakil bupati telah bekerja. Apa yang pemimpin sekarang buat itu menjawab masalah.


“Artinya kita melihat pemimpin disini bukan hanya bupati tapi wakil bupati juga mereka satu paket. Kadang orang hanya menilai ini hanya dilakukan satu orang. Ini adalah kepemimpinan pasangan JS-RK satu paket. Kita lihat sampai 2018 nanti setelah itu kalau masyarakat menghendaki ada pemimpin lain lagi, kita juga harus memberikan kesempatan,” tukasnya.


Terkait pembangunan dirinya membeberkan pembangunan ekonomi kerakyatan ala Partai Gerindra yang menolak kapitalisme. Menurutnya, bagi Partai Gerindra pertama infrastruktur dimana membuka akses sampai ke pertanian namun yang tidak kalah penting adalah membangun ekonomi kerakyatan.


“Jangan seperti mengadopsi gaya-gaya kapitalisme, gaya-gaya seperti mal, ini sebetulnya semi kapitalisme, karena dia bangun trus karena so bagus dia berikan tarif tinggi atau apa, sementara pedagang yang berjual disitu dipaksa untuk membayar sewa,” ungkapnya.


Ditambahkan, untuk Mitra pasar-pasar tradisional itu harus bikin orang merasakan ketika ada di pasar walau tempatnya representatif tapi gayanya harus tradisional. Jadi minset orang berpikir ini pasar modern  tapi siklus yang terjadi disana tradisional jadi silkus itu memang baru ekonomi kerakyatan yang ada di sana.


“Selanjutnya konsep agribisinis pertanian harus ada, konsep terpadu. Karena masyarakat Mitra berapa persen penduduknya petani jadi ini yang harus di support oleh pemerintah jangan belanja pegawai terlalu tinggi sementara nilai tukar petani rendah akan menjadi paradox. Nilai tukar petani tahun 2016 saya cek 93, persen sekian sementara Januari turun 92, persen sekian,” tukasnya.(rl)

Tidak ada komentar